đź’§ Resensi Buku Bicara Itu Ada Seninya

Berbicara itu Ada Seninya - Oh Su Hyang (Credit: goodreads.com) Bicara itu Ada Seninya merupakan merupakan salah satu rekomendasi buku public speaking yang layak kalian baca. Buku terjemahan dari Korea Selatan ini ditulis oleh Oh Su Hyang, dia adalah dosen dan pakar komunikasi terkenal di negaranya. Buku ini terdiri dari 5 bab dengan tebal 238 Bicara Itu Ada Seninnya atau The Secret Habits To Master Your Art of Speaking merupakan buku karya Oh Su Hyang, seorang dosen dan pakar komunikasi asal Korea Selatan. Buku ini menjelaskan bagaimana cara meningkatkan kemampuan berbicara yang baik dan efektif sehingga tujuan komunikasi, persuasi, dan negoisasi dapat tercapai. 51 - 100. 101 - 127. Tahukah Anda bahwa bicara itu ada seninya? Ketika komunikasi menjadi hal yang penting untuk bersaing, pakar komunikasi Oh Su Hyang mengeluarkan buku yang sangat berarti. Selain berisi tentang pengalaman pengembangan diri, buku ini juga membahas tentang teknik komunikasi, persuasi, dan negosiasi. Harga : Rp 67.000. Peresensi: Aditya Ryan Firmansyah (Mahasiswa Fakultas Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang). Buku ini memiliki judul "BICARA ITU ADA SENINYA".Buku ini merupakan karya dari seorang dosen dan pakar komunikasi terkenal di Korea Selatan bernama Oh Su Hyang. Oh Su Hyang telah melanglang buana dalam bidang komunikasi. JudulBuku : Bicara itu Ada Seninya. Penulis : Oh Su Hyang. Penerbit : Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, Cetakan Kesembilan: Mei 2019. Tebal : 238 halaman. Harga : Rp67.000,00. Kemampuan komunikasi selalu berperan penting untuk menunjukkan karakter seseorang. Hal tersebut menjadi alasan saya mempertimbangkan buku ini untuk dibeli. Oh Su Hyang, seorang dosen dan pakar komunikasi dari Korea Selatan menulis sebuah buku berjudul " The Secret Habits to Master Your Art of Speaking ", yang kemudian diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul " Bicara Itu Ada Seninya ". Walaupun buku ini merupakan buku terjemahan dari bahasa asing, narasi dan Tahun Terbit : 2020. Jumlah Halaman : 174. Presensi : Aisya Andini Djawa/259/F. Komunikasi itu ada seninya adalah sebuah buku yang ditulis oleh Oh Su Hyang. Ia adalah seorang pakar komunikasi psikologi. Oh Su Hyang telah telah sukses menulis buku yang memperoleh predikat best seller dengan judul Bicara Itu Ada Seninya. Bicara Itu Ada Seninya (The Secret Habits To Master Your Art Of Speaking): Rahasia komunikasi yang efektif karya Oh Su Hyang, seorang dosen sekaligus pakar komunikasi terkenal di Korea Selatan. Sebuah buku yang menarik perhatian ane ketika mencari buku tentang public speaking. Dalam buku setebal 238 halaman ini kita diajarkan banyak hal pengembangan teknik berkomunikasi, persuasi, dan negoisasi. Resensi"Bicara Itu Ada Seninya" Rahasia Komunikasi Yang Efektif Bicara Itu Ada Seninya ( The Secret Habits To Master Your Art Of Speaking ): Rahasia komunikasi yang efektif karya Oh Su Hyang, seorang dosen sekaligus pakar komunikasi terkenal di Korea Selatan. Sebuah buku yang menarik perhatian ane ketika mencari buku tentang public speaking. ContohResensi Buku - Apakah Anda pernah mendengar kata resensi?, memang benar jika kata resensi adalah kata yang sangat serig kita dengar namun banyak juga orang yang belum paham apa itu resensi sehingga banyak yang kebingungan jika harus melakukan resensi buku. Memang bagi orang awam akan kesulitan memahami apa itu resensi apalagi sampai membuat sebuah resensi buku. Jelasbahwa berbicara itu memang ada seninya dan tidak asal keluar saja dari dalam mulut. Dalam buku ini mengatakan bahwa; "Ucapan seorang juara memiliki daya tarik tersendiri. Ucapan pemandu acara memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Anda harus pandai berbicara untuk menunjukkan diri Anda kepada lawan bicara dalam kehidupan sosial. Maka buku Komunikasi Itu Ada Seninya membantu melengkapi apa yang belum sempat ditulis oleh penulis. Buku ini bertuliskan berbagai macam teknik komunikasi psikologi yang telah diteliti oleh ilmuan dan banyak di aplikasikan oleh pakar komunikasi terkemuka. B6TAXox. • Judul buku Bicara Itu Ada Seninya.• Tahun terbit Cetakan Kelima. Desember 2018• Nama Penerbit Bhuana Ilmu Populer• Kota Diterbitkan Jakarta • Alamat Penerbit Jl. Palmerah barat 29-37, unit 1, lantai 2, Jakarta 10270 Bicara Itu Ada Seninnya atau The Secret Habits To Master Your Art of Speaking merupakan buku karya Oh Su Hyang, seorang dosen dan pakar komunikasi asal Korea Selatan. Buku ini menjelaskan bagaimana cara meningkatkan kemampuan berbicara yang baik dan efektif sehingga tujuan komunikasi, persuasi, dan negoisasi dapat tercapai. Buku ini sangat ringan untuk ditulis dan mudah di mengerti oleh umum. Meskipun merupakan buku terjemahan dari bahasa asing, dapat saya katakan tim penerjemah berhasil menerjemahkan buku ini dengan baik. Tidak ada penggunaan istilah tinggi yang hanya di mengerti oleh mereka ahli-ahli bahasa, bahkan saya sendiri pun menikmati membaca buku ini dengan santai seperti membaca sebuah buku novel. Setiap bagian dibagi menjadi beberapa sub bab, yang selalu dibuka dengan cuplikan konsultasi dari beberapa orang mengenai masalah yang mereka hadapi, mulai dari pekerjaan, percintaan dsb. Yang kemudian berusaha di jelaskan oleh Penulis mengenai akar permasalahannya dan kemudian tips untuk mengatasinya. Bahkan di beberapa bagian, Penulis memberikan contoh dari para tokoh ternama yang pernah mengalami situasi yang sama Pada awal pembahasan buku ini, dijelaskan mengenai perbedaan antara orang yang “sukses” da “belum sukses” yang terkadang disebabkan oleh “ucapannya”. Komunikasi berperan sangat penting untuk menilai seseorang saat pertama kali bertemu, kalau kesannya baik akan mudah, pun kalau kesannya kurang baik maka akan semakin sulit untuk membangun suatu trust yang kuat dari lawan bicara kedepannya. Dijelaskan pula berbagai Sebab seseorang “takut” ketika berbicara, cara-cara berbicara yang salah, serta pentingnya memperhatikan bahasa nonverbal ketik berkomunikasi. Pada inti pembahasan, akan diberikan penjelasan lebih spesifik tentang teknik-teknik atau seni dalam berbicara secara lebih baik, dimulai dari pentingnya mendengarkan sebelum berbicara, teknik negosiasi, teknik storytelling, penggunaa repetisi yang tepat, hingga dasar-dasar percakapan yang terkadang kita lupakan tetapi sebenarnya sangat penting. Setelah pembahasan inti, diakhir kita bisa mendapat inspirasi dari beberapa public figure yang memiliki suara yang kita anggap “bagus”. Ternyata, suara bagus itu bukan bawaan dari lahir, akan tetapi bisa juga merupakan hasil latihan yang terstruktur dan terencana dengan baik. Berbicara ternyata bukan hal sepele ataupun bukan bawaan, seperti layaknya tubuh yang atletis, hal ini bisa dilatih jika memang kita memiliki tekad yang kuat. Tidak ada yang instan, semuanya harus melalui proses yang baik. Dengan kemampuan berkomunikasi yang lebih efektif, maka tentu kita akan mampu menghindari banyaknya permasalahan dalam kehidupan yang setelah ditelusuri ternyata berakar dari miskomunikasi dari pihak-pihak yang terlibat. Buku ini bisa menjadi salah satu panduan praktis untuk melatih kemampuan ini, yang tentu membutuhkan suatu komitmen untuk bisa mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, tidak harus selalu cepat, tapi perlahan, maka kemampuan komunikasi kita pun akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Selanjutnya, ada bagian kedua yang berjudul “Pintar Mendengar, Pandai berbicara”. Pada bagian ini, Oh Su Hyang memberikan rumus terapi komunikasi agar dapat berkomunikasi dengan baik, yaitu C = Q × P × R. C’ untuk communication atau komunikasi. Ada tiga hal untuk memenuhinya yaitu, Q’ untuk question atau pertanyaan, P’ untuk praise atau pujian, dan R’ untuk reaction atau reaksi. Selain itu, terdapat penjelasan juga bahwa obrolan yang baik itu diukur berdasarkan kualitas bukan kuantitas. Kemudian, dijelaskan pula teknik membujuk paling ampuh, negosiasi untuk memperoleh keinginan, serta inti dari perdebatan ialah mendengarkan lawan bicara. Kemudian, dilanjutkan dengan bagian ketiga yang berjudul “Ucapan yang Membuat Lawan Bicara Memihak Kita”. Di bagian ini kita akan diberi penjelasan mengenai suksesnya sebuah produk karena satu kata kunci. Contohnya, iklan Chocopie. Chocopie telah lama menjadi camilan rakyat Korea sejak akhir tahun 70-an. Produk ini dapat bertahan hingga saat ini karena produsen mengemas produk mereka dengan kata kunci “perasaan”. Dengan konsep “perasaan” yang familier dengan rakyat Korea menjadikan produk ini terus dilirik konsumen untuk menyampaikan perasaan mereka pada orang-orang di sekitarnya. Selain itu, bagian ini juga membahas bagaimana seorang produsen dapat menetapkan nilai produk dengan baik supaya dapat bertahan menghadapi persaingan pasar. Selanjutnya, ada bagian keempat yang berjudul “Beratnya Ucapan Ditentukan oleh Dalamnya Isi”. Bab ini diawali dengan kutipan kata-kata mutiara “Long Learn for Long-Run”. Kemudian, Oh Su Hyang memberikan contoh melalui kisah hidup pembawa acara terkenal Korea Selatan, Yoo Jae Suk. Sebelum mampu memukau mata banyak penonton dengan kelihaian dalam membawakan beragam program hiburan, Yoo Jae Suk pernah menjadi seorang reporter untuk acara Entertainment Weekly, Ia yang masih berusia 20-an berkali-kali gagap karena saking gugupnya ketika siaran berlangsung. Sehingga hal ini membuatnya di keluarkan dari acara tersebut. Melalui kisah Yoo Jae Suk ini, Oh Su Hyang menyadarkan pembaca bahwa semua orang memiliki titik start yang sama dalam hal bicara komunikatif. Kemampuan berbicara bukanlah bawaan lahir. Bagian kelima sekaligus terakhir dari buku ini berjudul “Suara Bagus Bukan Bawaan dari Lahir”. Pada bagian ini, disajikan teknik-teknik mengolah suara berdasarkan pengalaman Oh Su Hyang yang terdiri dari vokalisasi, melenturkan organ artikulasi, dan bernapas ala Choi Bool Am. Kemudian, diberikan kisah-kisah inspiratif dari tokoh publik Korea Selatan yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, mulai dari aktor Song Joong Ki hingga pembawa acara kondang Lee Geum Hee dan solois Korea Selatan Sung Si Kyung. Kelebihan dari buku ini banyak sekali yang sudah menjelaskan tentang cara berkomunikasi tapi kesemuanya hanya menjelaskan secara teknis dan teorinya saja sehingga susah dimengerti. Tetapi buku ini dikemas dengan bahasa yang menarik dan sederhana sehingga mudah dimengerti seperti membaca novel. Buku ini juga menceritakan beberapa tokoh terkenal dan sukses yang akan menambah motivasi pembaca. Kekurangan buku ini terdapat teknik-teknik komunikasi, perusasi, dan negosiasi. Tetapi teknik-teknik yang dijelaskan terpencar di beberapa sub bab dan terkadang judul sub bab tidak nyambung dengan teknik yang dijabarkan. Hal ini akan membuat pembaca kesulitan untuk mencari teknik yang pernah dibaca karena harus mengecek ulang setiap halaman. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Bicara itu ada seninya; The secret habits to master your art of speaking karya Oh Su Hyang, seorang dosen dan pakar komunikasi terkemuka di negeri ginseng, Korea Selatan. Buku ini merupakan hasil terjemahan dari Asti Ningsih pada Tahun 2018 terbitan Bhuana Ilmu Populer. Memiliki jumlah halaman 200 lebih sedikit membuat buku ini dapatNarasi singkat yang ada di cover belakang buku ini cukup membuat saya yakin untuk membelinya dan harganya waktu itu juga terbilang murah karena dapet diskon juga *hehe, sekitar ini banyak mengulas tentang teknik berbicara yang baik, juga diselingi oleh pengalaman penulis maupun cerita-cerita yang bisa menginspirasi kita dalam melatih teknik komunikasi kita. Dalam berbicara dan berkomunikasi, ada beberapa hal yang harus kita beri atensi agar penyampaian kita dapat diterima oleh khalayak ramai, antara lain rangkaian kata yang kita bahasakan dan bahasa tubuh kita. Oke, mari kita lanjutkan, ketika kita berbicara baiknya kita menciptakan kesan pertama yang baik dahulu agar pesan-pesan kita selanjutnya dapat lebih diterima oleh publik. Salah satunya adalah dengan melatih kefasihan berbicara kita, ketika kita berbicara cepat maka biasanya akan terjadi yang namanya 'keseleo lidah'. Hal tersebut bisa membuat kesan pertama kita menjadi tidak baik karena pelafalan huruf yang kita salah dan membuat misinterpretasi oleh lawan bicara kita kemudian mengenai tempo. Kita harus mengendalikan tempo penyampaian agar tidak terlalu cepat maupun terlalu lambat sehingga dapat tersampaikan dengan baik kepada lawan bicara tentang logika dan rangkaian kata, baiknya kita menyusun kalimat dengan runtut sehingga informasi yang hendak kita sampaikan itu dapat diterima dengan baik. Tetap bersikap tenang dan menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang mudah diterima juga menjadi kunci dalam menjaga konsistensi penyampaian argumen kita kepada lawan baiknya juga sejak awal kita berlatih untuk menyusun kalimat yang runtut sehingga penyampaian informasi kepada lawan bicara juga dapat sepenuhnya tersampaikan. Selanjutnya tentang bahasa tubuh, sikap percaya diri dan selalu menunjukkan senyuman akan memberikan kesan yang baik kepada lawan bicara, selain itu juga dari pandangan mata kita yang seolah memperhatikan lawan yang baik juga dibangun dari mendengar, kita menghargai lawan bicara kita kemudian kita bisa mendapat feedback yang baik darinya. Kita juga bisa menciptakan sebuah dialog yang positif dengan lawan bicara kita, bisa disederhanakan dengan rumus C = Q x P x R, Communication built from Question, Praise, and Reaction. Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, kita bisa membangun komunikasi yang baik dengan lawan bicara, kita memberikan materi sekaligus bisa menerima feedback dari mereka, pertanyaan dan pujian yang muncul dari lawan bicara juga menandakan bahwa kita diperhatikan ketika kita berbicara. Buku "Bicara Itu Ada Seninya" karya Oh Su Hyang ini cocok untuk kalian yang ingin mendalami dunia komunikasi. Background vector created by johndory - Kita juga sebisa mungkin menghindari gaya bicara yang membuat lawan bicara kita mengantuk, entah karena pembawaan kita yang monoton maupun suasana yang kurang kondusif untuk tetap menjaga fokus. Kita harus bisa mencairkan suasana dengan melemparkan jokes atau dengan melakukan icebreaking sehingga fokus lawan bicara kita kembali terbangun. Terakhir, pada tengah buku ini, ada beberapa aturan komunikasi yang dikenalkan oleh Yoo Jae Suk, seorang pembawa acara kondang di Korea. Pertama, jangan menggunjing, omongkan sesuatu di depan. Kedua, perbanyak mendengarkan, jangan memonopoli pembicaraan. 1 2 Lihat Hobby Selengkapnya Judul       Berbicara itu ada seninya Kota diterbitkan  Depok jawa barat Nama              Moh Rizal Priyato Alamat Penulis Desa Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar, Kabupaten Pamekasan Penerbit Bhuana Ilmu komputer        Nim              202010410311147 Penulis          Oh Su hyang Tahun terbit     2018 Tebal buku        235 Ketika komunikasi menjadi hal yang penting untuk bersaing, pakar komunikasi Oh Su Hyang mengeluarkan buku yang sangat berarti. Selain berisi tentang pengalaman pengembangan diri, buku ini juga membahas tentang teknik komunikasi, persuasi, dan negosiasi. Lalu bagaimana cara berbicara yang baik? Apakah berbicara dengan artikulasi yang jelas? Atau berbicara tanpa mengambil napas? Tidak! Sebuah ucapan yang bisa disebut adalah yang bisa menggetarkan hati. Ucapan seorang juara memiliki daya tarik tersendiri. Ucapan pemandu acara memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Anda harus pandai berbicara untuk menunjukkan diri Anda kepada lawan bicara dalam kehidupan sosial. Orang yang berbicara dengan mahir akan menjadi lebih maju daripada yang lainnya. Untuk mencapai tujuan komunikasi, persuasi, dan negosiasi, Anda harus mengetahui metode komunikasi yang efisien. Buku ini dijabarkan agar dapat dimengerti oleh siapa saja. Anda dapat belajar dari banyak pengalaman orang-orang terkenal dan juga mengenai rahasia inti komunikasi. Jika Anda membacanya dengan runut, saya yakin rasa percaya diri Anda untuk berbicara pun akan tumbuh dengan sendirinya. Setelah saya baca, buku ini menarik seperti novel. Buku yang patut dibaca oleh aku/ kamu/mereka atau kalian yang bermasalah dalam berbicara dan ingin tahu dasar dasar percakapan dengan orang lain. Dalam buku ini terdapat seoarang yang berisinial K ucapannya yang membuat ilfeel, dia seorang pegawai perusahaaan IT berusia 30-an awal. Perusahaan tempat bekerja adalah perusahaan terkemuka dan terbaik dibidangnya. Namun, ia gelisah. Ia bekerja ditempat yang terlalu berfokus pada kerjaannya sehingga ia tidak memiliki waktu untuk bergaul dengan sesama jenisnya. Dia ingin menikah namun selalu ditolak oleh wanita. Meskipun ia sudah memiliki semuanya tetap ucapanlah yang menentukan semuanya. Dalam berkomunikasi kita harus memikirkan lawan bicara dan juga tidak membicarakan diri sendiri agar memberi kesan yang baik kepada lawan bicara. Kata kata yang menarik dan berkesan dalam buku ini adalah “Penampilan yang rapi akan memberikan kesan yang bagus dan begitu pula dalam berbicara agar memberi kesan yang baik kepada lawan bicara” nah itu menggambarkan bahwa semuanya yang sudah kita miliki belum tentu akan memberi kesan yang baik pada orang lain, berbeda lagi dengan bicara, kita harus hati hati dalam berbicara karena ucapan bisa membuat kita terjatuh dan membuat orang terluka. Pakaian, dandanan dan rambut yang rapi memang tidak bisa diabaikan. namun, tetaplah ucapan yang sangat penting, karena ucapan adalah sarana yang paling penting untuk menilai seseorang secara keseluruhan. Melalui ucapan , kita bisa memperoleh kesan yang baik darim lawan bicara dan dapat menunjukkan sisi menarik diri kita kepada lawan bicara. Dalam berucap kita tidak bisa menghindar dari yang namanya mencerminkan keadaaan seorang apa adanya. Kita dapat mengetahui apakah orang itu logis atau tidaknya hanya berbincang sebentar dengannya. Oleh karena itu, pola pikir yang menunjukkan pemikiran yang logis harus dilatih, sekarang berbicara logis menjadi keunggulan tersendiri untuk menciptakan ucapan yang logis kita membutuhkan waktu yang lama untuk melatihnya. Ada lima hal untuk berbicara dengan logis. 1. Berikan alasan yang tepat untuk argumen anda, 2. Hindari lompatan logika dan melebih-lebihkan, 3. Konsisten dalam bersikap, 4. Gunakan kata kata sederhana dan 5. Tetap tenang. Dengan melakukannya kita akan merasakan ucapan kita dipenuhi dengan logika yang Dalam perjalanannya sebagai pakar komunkasi beliau kerap mendapatkan berbagai pertanyaan mengenai cara berkomunikasi dengan cara yang baik kemudian beliau menciptakan rumus dalam berkomunikasi, yaitu C=Q question P praise R reaction. Pertanyaan adalah bentuk ketertarikan pendengar terhadap apa yang kiata bicarakan oleh karena itu pertanyaan adalah sebagian dari komunikasi terlebih lagi dalam hubungan suami istri, pertanyaan berperan menjadi pelumas cinta. Seiring lama tinggal bersama, perasaan akan memudar dan dialog pun berkuarang. Jika didiamkan akan menjadi sebuah malapetaka dan yang kedua yaitu pujian. Dalam berkomunikasi kita saling memuji satu sama lain supaya membangun sebuah hubungan yang kokoh apalagi dalam belajar kita harus memuji pengajar kita supaya ia senang dan menjalankan tugas mengajarnya dengan. Dalam berkomunikasi kita juga harus ngelawak karena itu bisa membuat ruangan tidak kaku dan membuat pendengar tidak cepat bosan maksimal dalam 20 menit sekali. Dalam buku ini juga ada tata cara guru berkomunikasi dengan baik dengan muridnya dalam mengajar. Disetiap sekolah pasti ada guru yang disenangi oleh muridnya dan ada yang tidak. Jika sang guru sangan antusias dan suka marah marah maka murid murid pun menjadi kurang tertarik dengan mata pelajarannya sehingga nilaipun menjadi jelek. Tidak hanya satu dua orang guru yang seperti itu olehkarena itu oh su hyang memberi tip pada saat mengajar dan presentasi diberbagai bidang. 1. Menggunakan suara yang tidak menidurkan pendengar 2. Menjaga tenggorokan 3. Dengarkan dengan seksama. Dalam komunikasi ini juga ada aturannya, jangan menggibah seseorang, jangan banyak bicara, pakailah suara yang rendah, berkata yang menenagkan hati, birbicaralah yang mudah dimengerti, berbicara dengan hati hati tanpa menyebut aib dan juga memuji diri sendiri, berbiaralah hal hal yang menyenangkan, berbicaralah dengan lidah mata dan ekspresi, berhati hatilah dalam berucap karena satu ucapan bisa mengubah kehidupan seseorang, dan yang trakhir berbicaralah dengan sopan dan mempunyai rasa tanggung jawab atas apa yang kita ucapkan. Masalah dalam presentasi ada yang cuma menghafal dan hanya mengulang kembali apa yang di hafalkannya sehingga itu akan menjadi membosankan, setelah mengingat anda harus menguasi materi dan menyampaikannya dengan cara yang sangat menarik. Dan juga melibatkan audiens melalui komentar komentar dengan jawaban yang cerdas dengan begitu pemaparan anda bukan Cuma sekedar presentasi tapi kelihatan seperti penyiar telivisi. Presentasi bukan sekedar presentasi. Tapi kita harus punya kesiapan seperti halnya ibu menyiapkan makanan, tiga hal yang harus disiapkan oleh seorang presenter, 1. Kenali lebih dalam para audiens, 2. Tujuan, tujuan utama presentasi adalah membujuk para audiens dengan intisari yang mudah dipahami, 3. Seorang presenter haus siap.*

resensi buku bicara itu ada seninya